Perihal bintang dan jalan-jalan

Memasuki umur yang kesekian belas, ada satu hobi baru yang lama-lama ini mulai menggunjingi saya: stargazing!

Berawal dari iseng-iseng ke pantai Parangkusumo dan tidur di atas aspal berselimut bintang, saya mulai mencintai kegiatan satu ini. Bahkan lebih dari itu, kalau saya sadari pelan-pelan, kegiatan paruh waktu ini mengantarkan saya pada satu fase kehidupan baru. Bahwa ternyata krisis eksistensial dan nihilnya makna hidup manusia berawal dari kekaguman saya terkait pergerakan bintang-bintang.

Umur manusia yang singkat dan miliyaran tahun umur semesta adalah keajaiban-keajabian kecil penuh misteri. Ada sebuah rasa penyesalan besar karena tersadar seberapa kecil waktu yang kita punya untuk menjelajahi semesta raya, berapa kurangnya lompatan teknologi yang kita punya untuk mempertahankan peradaban umat manusia itu sendiri.

Lalu sya menyesal karena 18 tahun hidup yang saya alami adalah proses tidak menghargai kehidupan itu sendiri, terlalu banyak hal remeh temen yang saya lakukan untuk menyibukan diri. Rasanya, perlu ada penebusan untuk belasan tahun yang terbuang percuma.

“Also, people are probably terrible, because most of us know the names of mass murderers, but not Jan Oort.”

 

Melihat mimpi masyarakat egaliter dari film Kundo: Age of Rampant (2014)

 

[…]

Tapi dunia ini

Yang kuat menindas yang lemah

Dan yang kaya mencuri dari yang miskin

Itu menodai persaudaraan manusia yang suci

[…]

 

Sejarah dari semua masyarakat yang ada hingga sekarang ini adalah sejarah pertentangan kelas. Menurut para marxis kontradiksi kelas yang terjadi akhrinya membentuk kembali penyusunan kelas masrayakat. Pertentangan kelas ini pada hakikatnya akan terus menciptakan golongan dan status sosial yang ada dalam masyarakat. Sehingga prasyarat-prasyarat penindasan akan tetap tercipta.

Film ini mengambil latar pada 1862, periode akhir dinasti Joseon, dimana kerusuhan yang diakibatkan oleh bencana gagal panen serta kelaparan yang berkepanjangan membuat situasi penderitaan rakyat yang semakin menjadi-jadi. Akhirnya sebuah grup bandit “Kundo” berdiri dalam melawan korupsi dan eksploitasi yang dilakukan oleh kelas penguasa. Grup bandit ini merepresentasikan kelas bawah, yang termarjinalkan dan tidak mau tunduk terhadap kelas penguasa. Kundo kelak akan menjadi sebuah simbol perlawanan dan menjadi figur harapan bagi ketertindasan rakyat kecil.

Namun dalam hal ini Dolchi (Ha Jung-woo) mereprestantikan peran tukang daging, suatu kelas terendah dalam strata masyarakat Joseon kala itu. Melalui konflik bernuansa dendam, kesewenang-wenangan yang dilakukan oleh aristokrat ini dilihat sebagai sebuah dendam yang wajib ditunaikan.

 Bergabungnya Dolchi dengan Klan Chusul menjadi titik balik dalam meneruskan dendamnya tersebut. Klan Chusul sendiri merupakan klan “perampok” dari Gunung Jiri, yang menjadi salah satu kelompok tereklusi dari masyarakat. Dianggap sebagai kelas rendah karena sering melakukan perampokan terhadap kaum bangsawan dan pemilik harta di masyarakat. Melalui motto “mengambil dari yang kaya dan membagikannya kepada yang miskin”, sebuah upaya redistribusi kekayaan bernuansa robin-hood dalam sebuah masyarakat yang dekaden. Dalam hal ini kita dapat berasumsi, bahwa klan Chusul menganggap dirinya sebagai garda depan dalam menciptakan sebuah masyarakat egaliter. Kondisi masyarakat Joseon yang dipenuhi oleh penindasan kelompok berkuasa, tercabutnya hak politik dan ekonomi rakyat, serta kesewenangan-wenangan dan praktik korupsi yang merajarela mengakitbatkan ketertindasan setiap masyarakat kecil. Dengan munculnya grup bandit Kundo, menghadirkan sebuah harapan dalam kondisi yang tak berperasaan. Sebagai sebuah denyut perlawanan terhadap kelas penguasa.

Wabah penyakit serta kelaparan yang menjangkiti masyarakat pada hakikatnya akan menciptakan sebuah kondisi krisis?. Terlebih konflik agraria yang dihasilkan oleh kewenangan pejabat korup akan menciptakan kondisi ideal akan sebuah pemberontakan. Bila kita melihat hal ini kepada konteks nusantara misalnya, faktor sosial-ekonomi turut mengambil peran besar pada Perang Dipenogoro 1825-1830. Hal ini jelas bertentangan dengan narasi utama yang kita dapatkan di kurikulum sekolah. Bahwa Perang Dipenogoro ditenggarai oleh penyerobatan lahan yang dilakukan oleh Belanda terhadap tanah Diponogoro di Tegalrejo atau bahkan menurut narasi Belanda,  bahwa Perang Diponogoro terjadi akibat bapernya  Pangeran karena tidak terpilih menjadi penerus mahkota (dimana hal ini jelas bertentangan dengan pandangan? yang ia dapatkan di Parangkusumo). Namun pemiskinan kaum petani Jawa akibat liberalisasi ekonomi dilakukan Belanda kala itu, serta wabah kolera dan kelaparan yang terjadi di Jawa akhirnya memberi dukungan besar dari kaum petani terhadap pihak Diponogoro.

Dalam film Kundo sebenarnya kita bisa mengurutkan secara singkat faktor-faktor apa saja yang pada akhirnya berperan dalam membentuk grup Kundo tersebut. Pertama, bahwa bencana gagal panen mengakitbakan kelaparan masal bagi seluruh rakyat kecil kala itu, tanpa bantuan kaum dermawan serta kemurahan hati kelas penguasa hal ini jelas akan berimbas pada prasyarat kedua, yaitu konflik agraria. Melalui metode pengambilalihan lahan (kali ini tidak atas dalih pembangunan) yang dilakukan oleh kaum aristokrasi memaksa rakyat kecil dapat membebaskan dirinya hanya dengan tiga cara: menyerahkan lahannya melalui sebuah perjanjian yang mereka tidak ketahui, menjadi budak/kuli bagi kelas penguasa tanpa upah, atau sekedar mati dalam wabah kelaparan dan penyakit. Berkat prasyarat tersebut, pemberontakan petani menjadi sebuah keniscayaan. Namun tanpa kepemimpinan revolusioner serta kurangnya terencana pemberontakan tersebut menjadikan gerakan perlawanan mudah dipatahkan. Dengan begitu disini lah gerakan kepeloporan Kundo bermain, sebagai kelompok pejuang berdisiplin tinggi, perencaan pemberontakan harus dilakukan melalui rencana yang matang. Aksi-aksi berupa perlawanan bersenjata dan penyerangan terhadap kaum bangsawan pun dilakukan.

Selain itu melalui perampokan terhadap pejabat korup, penyerangan gudang penyimpanan beras dan membagikannya kembali kepada masyarakat, serta pengambilalihan kembali tanah rakyat kepada seluruh masyarakat (di Indonesia dikenal dengan penyerobotan tanah oleh BTI). Kundo mengambil sebuah peran kepoloporan dalam bentuk perlawanan terhadap kelas penguasa.

Cita-cita tentang masyarakat egaliter yang diimpikan oleh klan Chusul berimplikasi pada aksi sepihak yang dilakukan grup bandit tersebut, tapi apa yang bisa kita pelajari dari film ini bahwa pertama, walaupun aksi telah dilaksanakan dengan matang dan telah memiliki prakondisi yang jelas, tanpa dukungan massa secara luas aksi hanya akan berjalan cenderung singkat dan temporer. Kedua, bahwa aksi heroik dan berlandaskan gerakan moral, hanya akan membawa kita pada satu dua langkah ke depan dan rentan menimbulkan masalah yang sama di kemudian hari. Tanpa menumbangkan sistem yang ada, masalah-masalah yang ada akan terus bertahan. Walaupun aksi Kundo tersebut diliat sebagai aksi heroik yang menampilkan jagoan-jagoan, tapi tanpa penghancuran sistem dan pembagian hak-hak ekonomi politik secara merata kepada seluruh masyarakat, maka penindasan akan tetap ada.

Hal ini jelas menunjukan bahwa dalam hal yang kita pandang remeh dan tidak penting sekalipun terdapat contoh refleksi dalam menilai sistem nilai yang berlaku dalam masyarakat. Dalam kasus ini film ini menunjukan bahwa terdapat faktor-faktor dan analisa yang dapat dilakukan dalam melihat penindasan yang ada di masyarakat. Pertentangan kelas antara kaum hamba dalam menggulingkan tuan feudalnya dapat kita lihat sebagai sebuah kasus dalam film Kundo: Age of Rampant ini.

 

oleh: Dipa Satrialenana

Seorang mahasiswa yang sedang menikmati kegabutan agak panjang di kampung halamannya.

Disaat solidaritas fardu ain hukumnya

Pembubaran tidak hanya menandakan bangkitnya kaum reaksioner di tanah Jogja tapi juga menunjukan lemahnya persatuan kaum progresif. Untuk melawan tindakan fasistik ini (yang didukung pula oleh aparat dan kelas penguasa setempat) selain melakukan solidaritas berbasis dunia maya, kita semua perlu datang untuk menunjukan bahwa perlawanan itu ada

Disaat mengikuti aksi nonton bareng Pulau Buru Tanah Air Beta kemarin saya menyaksikan bagaimana kebusukan kaum tersebut dengan kecongkakannya jalan kesini kesana serasa mempunyai kuasa untuk menghalalkan acara mana yang boleh berjalan.

Maka dari itu untuk berdiam diri tanpa menunjukan perlawanan, kita tidak hanya melakukan pembiaran tapi turut berpartisipasi aktif mendukung tumbuhnya kaum reaksioner.

Buruh tani mahasiswa rakyat miskin kota
Bersatu padu rebut demokrasi
Gegap gempita dalam satu suara
Demi tugas suci yang mulia

Hari hari esok adalah milik kita
Terciptanya masyarakat sejahtera
Terbentuknya tatanan masyarakat
indonesia baru tanpa orba

 

Panjang umur perlawanan!

Tunggu sebentar, mz

Setelah minggu kemarin yang katanya dipenuhi oleh tugas dan deadline (walau saya senang karena beberapa hal juga) akhirnya memasuki minggu yang bisa dibilang agak damai.

Hari ini merupakan pengalaman pertama menjadi seorang agitprop, dalam tujuh belas tahun yang singkat dan minim pengalaman, kegiatan siang tadi merupakan satu dua hal yang bisa buat saya senang. Namun karena kecilnya reaksi yang ditunjukan oleh rekan mahasiswa perihal kriminilasi aktivis buruh membuat saya berpikir tentang metode dan strategi yang memang harus diformulasikan agar dapat mengikuti arus dalam sebuah zaman hegemoni borjuasi seperti sekarang.

lalu Bagaimana? Untuk mejawab ini merupakan suatu hal yang pelik bagi saya, tidak hanya kita perlu terlebih dahulu meradikalisasi permasalahan agar mengerti seluk beluk dan akar yang membuat sebuah problema dapat mencuat selain itu perlu dilakukan dan analisa mendalam agar dapat membuat sebuah formulasi yang pas.

Sewaktu tadi saya melihat tulisan soal Relevansi Politik Dalam Kehidupan Sehari-hari saya kira memang tujuan awal kita adalah untuk membentuk kesadaran politik (belum kesadaran kelas) bagi setiap anak muda, karena dengan kesadaran bahwa politik memang menjadi salah satu intervensi kepada hidup kita ada kemungkinan kita mau mengubah keadaan yang terjadi. Nah kalau begitu apa langkah selanjutnya? Bagaimana kita harus memulai? Mungkin kita bisa lihat lagi setelah beberapa pariwara berikut

Saya mengeluh maka saya bebas tugas

Sebernenya ini perkara kecil yang dibesar-besarkan, persis seperti apa yang saya suka.

Nah jadi masalahnya itu kata teman saya anak-anak HI lagi hectic-hecticnya (itu istilah mereka) Memang sih tugas-tugas sedang dalam masa kawin, mungkin menjalankan sunnah atau sebagai hasil evolusi untuk meneruskan gen-gen mereka. Ah ngawur

Tapi kok saya malah merasa santai, ya?

 

 

Oh lupa, pasar kerja.

Elitisme dan Serangan Prematur dalam Gerakan.

Situasi timeline malam itu senyap-senyap hangat, bentrokan antara pihak Pro-Renovasi dan Pro-Relokasi yang terjadi membuat kedua pihak saling hantam menggunakan kekuatan jempol dan lini masa yang sudah dikuasai. Alhasil malam di Jogja yang biasanya romantis diantara sayup-sayup hujan menjadi agak sedikit mencekam.

Disini saya tidak akan (dahulu) menjelaskan duduk perkara SBM dan photo diatas saya kira sudah memperlihatkan dimana posisi saya

Masalah yang diakibatkan pukulan prematur terhadap barisan reaksioner oleh kawan progresif kita ini membuat proses penggalangan massa dalam tubuh reaksioner semakin menguat dan suara anti-gerakan makin terdengar nyaring. Tentu kita dapat melihat akibat serangan yang dilakukan dan tidak pada waktunya dan tidak pada tempatnya membuat gerakan mundur beberapa langkah dari rencana awal dan penting untuk diperhatikan sebelum melancarkan pukulan prematur ini kita masih perlu untuk memberi garis yang memisahkan antara Kita dan Mereka, Kenapa? Eskalasi konflik merupakan suatu hal yang menjadi fardu ain hukumnya agar penggalangan masssa agar dan pukulan dapat dilancarkan secara tepat semestinya.

Singkatnya sih. Rektorat bersatu! Tak bisa dikalahkan!

 

Yogyakarta, 23 April 2016

Duduk nyaman di sofa kapitalisme global

Kaderisasi?

Setalah akhir-akhir ini sedang keranjingan untuk mengikuti diskusi dan mendalami beberapa buku yang habis dibeli.Tengah malam tadi setelah mengikuti diskusi “Semangat Internasionalisme dan Persatuan Sosialis Revolusioner” oleh KPO PRP sempat belajar beberapa wacana yang terlempar dari bung Mahendra.

Pertama, mengenai pembentukan organisasi yang dikira dapat menghimpun kekuatan revolusioner. Seringnya kasus pembubaran acara yang dilakukan oleh segelintir kaum sayap kanan atau fasis tepatnya, aku rasa perlu ada sebuah penunjukan kekuatan untuk melawan arogansi yang sedang ditumbuhkan oleh mereka. Namun karena kekuatan yang sudah kepalang tercerai-berai dan menurunya semangat Massa Aksi dari beberapa tahun ke belakang, organisasi masih harus berangkat dari Lingkar Studi sebelum pergi menjadi Partai Kader apalagi Partai Massa yang dapat menghimpun kekuatan nasional. Pentingnya radikalisasi disini, untuk menembuhkan seorang kader yang dirasa dapat menjawab persoalan secara praktis dan mendalami teori serta mempertajam analisanya, perlu dibentuk melalui proses tempaan yang krusial, tidak hanya melalui diskusi dan baca buku semata tapi perlu langsung diturunkan bersama rakyat agar dapat menumbuhkan sentimen kuat akan perlunya perjuangan kolektif bersamaan dengan rakyat. Melalui pembentukan kader atau individu yang dianggap sudah radikal dan militan, baru lah darisini dapat melulai semangat perjuangan revolusionernya.

Namun apa yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana proses membentuk individu yang dapat menjadi radikal militan ini. Terlepas dari adanya beberapa bacaan yang menjadi fardu ain hukumnya, harus ada beberapa proses yang dijadikan acuan agar dapat menumbuhkan semangat kerakyatan yang tahan bila dihadapkan kekuatan otoritas dan fasis. Hal ini tentu menjadi tanggung jawab bersama, terlebih pembentukan individu ini tidak hanya menjadi persoalan organisasi semata tapi juga menjadi persoalan yang sangat krusial untuk menjadi tanggung jawab pribadi.

Lalu yang menjadi tak kalah penting adalah mulai adanya sebuah beban moral untuk mengikuti organisasi progresif, terlebih setelah beberapa kali tidak dapat menjawab persoalan dasar mengenai analisa dan teori. Realita kebodohan yang menjadi nyata merupakan bebab sangat berat bagi saya, setelah 9 tahun belajar di sekolah formal saya merasa hanya sedikit yang bisa dipelajari dan setelah memasuki masa kuliah ini tanggung jawab belajar merupakan salah satu hal yang paling penting dan krusial adanya.

“Kami punya satu aturan yang sangat ketat, bahwa semua kamerad di akhir semesternya tidak boleh menghadiri sel tetapi harus berkonsentrasi untuk menulis ujian mereka. Saya tidak pernah setuju drop-out. Selain ini menunjukkan sifat serampangan, ada juga kecenderungan di antara mahasiswa yang gagal ujian untuk menyalahkan organisasi. Trotsky pernah mengatakan, bila kau adalah seorang buruh, kau harus jadi buruh terbaik, bila kau adalah seorang tentara, kau harus jadi tentara terbaik. Hal yang sama adalah benar untuk mahasiswa Marxis.”*)

Ya, sekarang persoalan yang saya hadapi tidak hanya terkendala mengenai pembelajaran pasif di dalam kelas tapi menjadi suatu realita yang semakin kompleks dan membutuhkan perhatian serius untuk dihadapi.

Semoga Berhasil.

Insya Allah ada jalan.

 

*) Catatan ini diambil dari tulisan karya Alan Woods bertajuk Kerja Revolusioner di Universitas. Dapat dilihat di http://www.militanindonesia.org/teori-4/organisasi/8335-kerja-revolusioner-di-universitas.html

Senja tanpa hujan

Tidak seperti hari biasanya, senja di hari ini tidak mendapatkan hujan. Dalam sepinya kosan dan rindu akan rumah yang semakin berat, hari ini sialnya harus dipenuhi dengan kehampaan dan rasa sesal. Aku pun sendiri bingung kenapa harus seperti ini.

Jogja yang katanya kota romantis lama kelamaan mulai kehilangan daya tariknya, apa karena dunia yang terlalu monoton atau hanya sebatas kesepian, setiap orang punya beban moral untuk menjawabnya.

Bosan, penat, jenuh, lelah, sepi, rindu, hampa atau apapun itu bukannya bersikap (sok) produktif seperti kemarin-kemarin atau sekedar mencanangkan retorika a la mahasiswa baru, sayangnya sore ini hanyalah sore yang hampa.

 

 

Metamorfosa Kaum Fasis: Dari Kupu-Kupu Menjadi Ulat

Tulisan ini terinspirasi dari pergerakan kaum Fasis yang muncul pada era Showa di dalam buku Japan Past and Present karya Edwin O. Reischauer, tulisan Windu Jusuf bertajuk Bagaimana Kaum Fasis mencontok politik Kiri (Dan Bagaimana Caranya Memukul Balik), serta obrolan yang seringkali terlintas di asrama Cemara Lima.

***

Bab X The Apperance of Liberal Democratic Trends

“Despite these political gains of the middle classes and the appereance of new intelectual trends, Japan entered the First World War apparently under the firm control of a small oligarchy, and then, as the war ended and Japan entered the post-war world, it suddenly became evident that there was no longer a small, clear-cut rulling group, but instead, thousand of bureaucrats, military leaders, bussinessmen, and intellectual, all contending for control of the government.” [hal.145]

Melalui  pendidikan yang berhasil menumbuhkan kesadaran politis bagi generasi baru yang terbentuk setelah Revolusi Meiji. Permintaan elemen masyarakat terdidik akan sebuah pemerintahan yang terbuka bagi setiap orang memunculkan konsep universal manhood suffrage, yang pada tahun 1925 membuat setiap lelaki dewasa di Jepang mempunyai hak pilih.

Tren demokrasi yang telah tumbuh kuat di kota membuat kelas menengah dapat memiliki peran sentral disini, walaupun pengaruh partai tidak terlalu signifikan dalam politik praktis, para era 1920 intelektual kota dan pekerja kerah putih (atau kita sebut saja karyawan) akhirnya berkembang menjadi elemen liberal yang kuat.

Walaupun masyarakat kelas bawah pada umumnya tidak memiliki ketertarikan pada tren demokrasi yang terjadi, kaum proletariat kota dalam proses untuk menjadi sebuah kekuatan besar  dalam kancah perpolitikan nasional. Serikat buruh Jepang yang telah tumbuh dengan pesat, pada 1919 melakukan tekanan melalui aksi mogok yang pada era selanjutnya menjadi sebuah corak umum.

Singkatnya era Meiji tidak hanya mentransformasi Jepang menjadi sebuah kekuatan militer dan industri yang kuat tapi konsep demokrasi, kehidupan intelektual, dan tren liberal yang akhirnya berkembang merupakan sesuatu yang belum bisa dibayangkan pada awalnya. Revolusi Meiji pada akhirnya bertumpu pada pergerakan kekuatan liberal dalam kelas menengah.  Tren liberalisme yang terbatas pada kehidupan politik dan intelektual kota ini pada akhirnya akan membawa Jepang pada sebuah babak baru,(meminjam bahasa Adrian) munculnya kebutuhan akan keteraturan pada beberapa elemen masyarakat ini akan menjadi salah satu faktor penting bagi tumbuhnya sebuah kekuatan akan menjadi  yang tidak akan dilupakan pada pertengahan abad ke-20, melalui corak kehidupan liberal yang terjadi pada era ini kaum yang kita kenal dengan sebutan fasis lambat laun akan berkembang dengan sangat giat pada era selanjutnya.

 

Bab XI: The Nationalistic and Militaristic Reaction.